Minggu, 27 November 2011

3 pesan perubahan dalam menyambut Tahun Baru Hijriah

 Ada 3 pesan perubahan dalam menyambut Tahun Baru Hijriah, yaitu:

1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama / hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini.
...
2. Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa dimata Allah Ta'alla, seperti membiasakan shalat dhuha 2 raka’at, suka sedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak-anak yatim, dll.

3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta'alla agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

--------Selamat Menyambut Tahun Baru Hijriah-------

Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung, Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi, Siapa yang keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka” (Al Hadist).

Kamis, 24 November 2011

Mengapa Bangsa Yahudi Bisa Sedemikian Pintarnya ?

Kalau anda membenci negara Vatikan, lalu anda mengumumkannya ke banyak orang, secara tidak langsung anda mengajak bermusuhan seluruh pemeluk agama Katolik. Karena disitulah pusatnya agama Katolik.
Begitu pula kalau anda membenci negara Tibet, anda mengajak ribut pemeluk agama Budha. Karena dinegara itu hampir seluruh warga negaranya memeluk agama Budha.
Tapi kalau anda membenci dan mencaci maki negara Israel alias bangsa Yahudi, dijamin anda sependapat bahkan didukung oleh masyarakat dunia lainnya.
Karena bangsa Yahudi memang pembuat onar dan demen amat dengan perbuatan menindas dan menganiaya.
Herannya “ bangsa cuman secuil gitu doank kok gak ada yang bisa ngelarang dan ngeberantasinnya ya ??? “
Mana PBB dan seluruh organisasi kemanusiaan dunia ?
Jawabannya Cuma satu kalimat saja :

Karena bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi.

Mana ada yang berani coba ???

Apakah Takdir Bisa Berubah atau Telah Ditetapkan? bag.2

Takdir telah ditetapkan sempurna oleh Allah, baik itu takdir baik maupun takdir yang buruk. Jika ada perubahan, misalnya sekarang saya miskin lalu sembari ikhtiar setahun kemudian menjadi kaya, hal ini bukan takdirku yang berubah, tapi keadaan/nasibku yang berubah (QS13:11), dari keadaan miskin ke keadaan kaya. Dan perubahan keadaan/nasib ini adalah jalan takdir yang memang sudah ditetapkan demikian. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang telah kita baca di note sebelumnya, bukanlah sesuatu hal yang bertentangan. Justru jika dikaji lebih mendalam, kita malah semakin mengenal keagungan Allah Yang Maha Pandai. Ayat-ayat tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menjelaskan hal ini. Keadaan/ nasib (takdir khusus) bisa berubah, dan berubahnya nasib tersebut telah ditetapkan sedetil-detilnya dalam lauhul mahfuzh.
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).(Al-An’am-59)

Ilmu Pengetahuan Adalah Pendekatan Diri kepada Allah

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)
Ilmu disini salah satunya adalah ilmu agama. Belajar/ mengkaji Al-Qur’an dan Hadits agar iman makin mantep. Namun tidak sebatas ini. Tapi penulis ingin mengkajinya lebih luas lagi. Mungkin kita akan berpikir, bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi pendekatan diri kepada Allah? Ilmu pengetahuan adalah potensi yang sering kita dapat di sekolah, kuliah, bahkan di sekitar kita. Ilmu yang dimaksud salah satunya adalah ilmu agama. Tetapi tidak terbatas ilmu tentang pokok ritual agama saja (sholat, puasa, dsb), tapi juga ilmu tentang alam, ekonomi, kedokteran, teknologi, astronomi, dsb. Lalu apa hubungannya dengan agama (pendekatan kepada Allah)?
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…(Al-Fathir:39)

Kejarlah Akhirat dan Jangan Lupakan Dunia (Bukan Sebaliknya)

Setiap setik kita hidup di dunia dan banyak melihat (belajar) dari dunia sekitar. Tapi ketika tanpa berpedoman Al-Qur’an dan Hadits, bukan tidak mungkin akhirnya terjebak pada pikiran “hidup adalah untuk keduniaan. Yang tidak mengejarnya/ rendah di mata duniawi, maka ia adalah orang yang gagal”, naudzubillaahi min dzaalik. Banyak orang menganggap orang yang punya jabatan tinggi, berprestasi, populer, kaya raya, dsb maka dialah yang sukses, padahal belum tentu. Seringkali kita terjebak penilaian kesuksesan seseoranga pada keduniaan saja, bukan apakah Allah merahmati/ ridho atau murka pada dia.
Orang yang sibuk pada dunia menganggap belajar Islam adalah sampingan. Padahal belajar Islam adalah yang utama, baru belajar untuk keduniaan. Alasan manusia dilahirkan ke dunia adalah karena mempunyai tugas, yakni mengabdi pada Allah dengan tulus ikhlas karena Allah semata (semoga Allah memberi petunjuk). Untuk Allah-lah kita hidup.
Beberapa orang sering mengatakan begini, “kejarlah dunia, tapi jangan lupakan agama (akhirat)”. Kalau kita menelaahnya, kalimat tersebut menunjukkan bahwa (koreksi jika saya salah) yang dikejar utamanya adalah sesuatu yang bersifat duniawi (kedudukan, status sosial, popularitas, kekayaan, jabatan, dsb) setelah itu baru agama (akhirat). Padahal susunan kalimat dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77 mengatakan demikian,
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhira