Selasa, 16 Agustus 2011

Al-Quran yang Suci untuk hati yang bersih

Ketika membaca atau menghafal al-Qur'an, bagaimana suasana hati anda? Jika anda merasa tenang, nyaman dan bersemangat setelah mempelajarinya, maka berbahagialah dengan kondisi itu. Saat itu hati dan jiwa anda sedang mendapatkan sebuah kelembuatan dari Allah yang Maha Kuasa dan pemilik kitab suci al-Qur'an ini.
Sebaliknya, apabila ketika membaca, menghafal atau memahami isinya, anda menjumpai ketidaknyamanan, lidah terasa berat melantunkan bacaannya serta hati tidak konek dengan isinya, waspadalah terhadap hati anda itu. Jangan-jangan kondisi hati sedang bermasalah. Atau pikiran dan jiwa anda sedang mengalami kelemahan iman.

Terus terang, membaca dan mempelajari al-Qur'an saat ini bisa dikatakan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Perlu keseriusan dan pendampingan guru pembimbing. Hanya orang-orang yang memiliki niat yang mulia dan sadar akan urgensi tilawah al-Qur'an sajalah yang bisa melaksanakannya.

Selain itu, yang paling perlu kita perhatikan sebelum jauh-jauh belajar al-Qur'an, adalah memahami bahwa AL-QUR'AN ini adalah wahyu Allah yang abadi lagi suci. Se-Suci dan se-Mulia zat Allah yang menurunkannya. Dan wahyu yang suci itu tentunya sulit untuk menembus hati yang kotor dan rusak karena noda maksiat dan dosa. Taubat, istighfar dan kembali kepada jalan Allah adalah solusi yang terpenting.

Seringkali kita terlalu banyak mengeluh akan kesulitan belajar al-Qur'an yang agung ini. Tehnik demi tehnik sudah kita baca dan kita pelajari. Dari yang klasik sampai yang modern. Tapi tetap saja semua itu seakan tidak berarti sedikitpun untuk memotivasi tekad kita untuk terus bangkit dan belajar. Padahal sebenarnya bukan kendala itu yang menjadi masalah. Itu hanyalah masalah ekstern yang masih bisa dicarikan jalan keluarnya. Tapi yang paling menjadi masalah utama adalah masalah intern. Masalah hati dan kondisi hati serta jiwa kita.


Coba diintropeksi lagi. Sudahkan kita bertaubat dan menyadari akan kekurangan diri kita ketika melaksanakan ibadah? Sudahkah kita berpikir bahwa al-Qur'an ini hanya akan bisa diterima dan menembus ke dalam sanubari kita apabila hati kita benar-benar bersih semua noda dosa dan keinginan buruk itu?

Pernahkah kita berpikir untuk meminta nasehat, masukan atau tempat curhat untuk mengatasi masalah hati yang setiap hari bisa terus menumpuk dan menjebol hati kita menjadi lebih 'keras' membatu ini?

Hal-hal inilah yang patut kita pertanyakan pada diri kita masing-masing. Sebab Allah berfirman:

"Dan apabila kamu membaca al-Qur'an maka kami jadikan antara kamu dengan orang-orang yang tidak beriman dengan hari akhirat sebuah hijab (penghalang) yang tertutup."(Qs al-Isra: 45 )

Artinya, kalau kita bisa membaca dan menghayati al-Qur'an dengan penuh kesadaran, maka kita akan dibedakan dengan perilaku orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan al-Qur'an ini. Sebab hati orang-orang kafir itu sudah tertutup dan terkunci mati. Dan hati yang sudah Allah kunci mati tidak akan bisa menemukan hidayah (petunjuk) al-Qur'an dalam hidupnya. Kecuali mereka yang masih Allah rahmati.

Bagi seorang muslim dan muslimah sejati yang selalu memegang teguh nilai-nilai Islam, hidayah al-Qur'an dan memahaminya secara benar adalah sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan kata lain, orang muslim/ah itu harus bisa membaca al-Qur'an dengan baik sesuai dengan kaedah ilmu tajwid, memahami secara utuh, menghafal ayat-ayat yang sudah dipahami itu dan kemudian merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Karenanya, antara mempelajari al-Qur'an, memahami Islam dan kejernihan hati antara yang satu dengan yang lain saling memiliki keterkaitan yang demikian erat. Tidak bisa seorang muslim/ah memahami agamanya atas dorongan hawa nafsunya. Tidak bisa di satu sisi ia belajar al-Qur'an, namun di sisi lain ia 'doyan' berbuat maksiat. Kalau sudah demikian maka bisa-bisa al-Qur'an akan membuatnya semakin jauh dari Allah dan membuatnya semakin dekat dengan maksiat! Nauzubillah min zalik..

Ingat, kaum khawarij (pemberontak yang keluar dari pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib) yang dahulu pernah hidup di zaman sahabat rasulullah adalah mereka yang serampangan dalam belajar dan berinteraksi dengan al-Qur'an. Mereka belajar al-Qur'an tanpa keterlibatan hati yang bersih dan tuntunan Rasulullah. Akibatnya, mereka menyakiti dan membunuh siapa saja bagi yang tidak sejalan dengan keinginan dan cara berpikir mereka. Mereka telah keluar dari Islam karena menjadikan al-Qur'an semata-mata sebagai landasan berislam tanpa sunnah Rasulullah saw. Atau dengan bahasa lain, mereka memahami al-Qur'an berlandaskan hawa nafsu saja.

Sangat wajar apabila kemudian Rasulullah mengancam bahwa akan ada suatu kaum yang gemar membaca al-Qur'an tapi hanya bacaan al-Qur'an hanya sekedar lewat di kerongkongan saja. Amal dan prakteknya jauh dari kandungan al-Qur'an yang mereka pelajari itu.

Sungguh, kondisi yang sangat memprihatinkan. Karenanya, apabila kita ingin mendapatkan hidayah, kedamaian berislam dan mencari ketenangan hati, kembalilah kepada al-Qur'an yang suci. Carilah komunitas yang bisa membuat hati dan diri anda tetap bersemangat untuk mempelajarinya setiap saat. Insya Allah semuanya akan Allah mudahkan.

"Dan setiap jalan-jalan kemudahan itu itu sudah Allah tentukan garis takdirnya
."

Begitu kata baginda Rasulullah saw.

Semoga kita digolongkan menjadi para penggemar dan orang-orang pilihan-Nya untuk selalu bersama al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan ini, Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar